Tak banyak yang tahu tempat ini, orang lebih mengenal Bira atau Tanah beru. Apalagi masyarakat yg tinggal diperkotaan!!!pasti dia akan berkata dimana itu?. Jarak dari ibukota kabupaten Bulukumba sekitar 35 km arah ke timur, setelah melewati Tanah beru ibukota kecamatan Bontobahari masih sekitar 9 km lagi arah ke timur tenggara, dan harus melalui jalanan aspal "tenteng" dan sebahagian hotmix aneh kan..itulah dampak dari birokrasi...sepanjang jalan kita hanya bisa melihat hamparan padang ilalang sesekali kita melihat kebun jambu mente atau peternakan kambing.
Jalan aspal membelah bukit, menukik tajam sekitar 45 derajat merupakan tanda kalau kita sudah dekat dengan desa Ara. Setelah melewati turunan itu, barulah kita akan menjumpai rumah panggung yang berdiri tegak dan tersusun rapi mengiringi perjalanan kita menuju pusat desa. Masyarakat Ara dikenal sebagai pembuat perahu pinisi, ini disebabkan oleh keahlian dan keterampilan yang dimiliki secara turun temurun serta pola hidup masyarakat Ara yg senang merantau. Namun menurut saya ini disebabkan oleh kondisi geografisnya yg berbatu dan topografi lahan yg tidak menunjang kebutuhan masyarakat. Mau tanam padi tidak bisa tumbuh!!! intinya..begini! luas lahan produktif tidak sebanding dengan populasi masyarakat yg tinggal di desa tersebut. nah....hal inilah yg mendasari sehingga memaksa mereka merantau demi kebutuhan dasar manusia. Menurutku........nda tau yang lain deh.......
setiap musim liburan saya pasti menghabiskan waktu di desa ini...malah waktu kelas 2 SD saya meminta Ibu agar saya pindah sekolah ke desa...tinggal di rumah nenek bersama dengan tante dan sepupu-sepupuku adalah hal sangat menyenangkan. Tiap hari sebelum berangkat ke sekolah kami rame-rame ke "water boom" Erelohe, tempatnya tidak begitu luas dan bagus seperti yang kita tahu, namun buat saya waktu itu adalah "water boom" yg mengasikkan, tanpa sehelai benang di badan kami menikmati "waterboom" dengan sarana yang tersedia oleh alam, dari atas batu besar kami melompat sambil teriak sekencang-kencangnya mengikuti gaya gravitasi bumi sehingga tercipta sebuah rumus fisika yg belakangan jadi ikon iklan oleh sebuah perusahaan softdrink.
Dari rumah saya bertiga dengan sepupu berjalan kaki menuju sekolah kami, perjalanan ini kami ditempuh selama kurang lebih 30 menit melewati pasar tempat kami beli panganan tenteng ..."my favorit cookies", kebun belakang rumah penduduk sambil liatin buah apa yg sudah matang, dan hutan jati. sekolah kami sederhana tapi tidak bocor kalau musim hujan atau dihuni oleh binatang pada saat kami telah meninggalkan sekolah...maklum ini merupakan aset yg paling berharga didesa kami, jadi sangat dijaga boleh dikata bangunan seperti itu termasuk langka didesa kami...soalnya sekolah yg satunya sudah hampir ambruk dimakan usia sementara sekolah lainnya jauh. hanya satu dibenakku semasa sekolah yakni bermain dengan teman dan sepupu-sepupuku.
Jam istirahat kami main cangko' sebuah permainan ketangkasan dengan menggunakan 2 buah kayu yang satunya panjang dan satunya lagi pendek, cara bermainnya sangat simpel, cukup menaruh kayu pendek ketanah lalu diberi ganjalan, sementara kayu yg panjang digunakan untuk memukul kayu pendek tadi. semakin kuat kita memukul kayu pendek maka peluang kita menjauhkan kayu pendek dengan posisi awal semakin besar karena pada saat kayu pendek bergerak pada saat itu pula kita mengikuti kayu pendek dengan menggunakan kayu panjang sambil memainkan kayu pendek. seingat saya dalam permainan ini saya jarang menang...he..he..he..
pulang sekolah kadang saya tidak langsung kerumah mampir dulu dirumah tante yg jual jalangkote setelah mendapat jatah jangkote spesial baru saya minta diantar pulang kerumah nenek. Pernah satu waktu tanpa sepengetahuan tante saya ikut menjual jalangkote keliling desa dari jalan yang satu kejalan berikutnya keluar masuk gang sambil teriak jangkote...jalangkote...saking asiknya teriak-teriak tanpa disadari seekor anjing berdiri tegak siap menerkam mangsanya sudah berada dihadapan kami ...tanpa pikir panjang jurus langkah seribu kami ambil sambil tetap teriak jalangkote .....eh salah ....tolooooooooooooooong...
Rumah nenek yang sejuk dan belaian kasih sayang membuat saya sering sekali tertidur dipangkuannya!!!
4 komentar:
23 Juli 2008 pukul 00.24
masih...ya....gimana ya....ya...gitu dueh....i think u have just started to learn how to be a writer!!!!!!!!.....omg...tapi agak lucu lah...sangat merakyat...dibuktikan dengan keberadaan makanan yang cukup asing di telinga "jalangkote"...biasanya sih... disebut "kue pastel" ya...dan "teng-teng"....ya saya tau seh..."ting-ting" merek garuda itu....
25 Juli 2008 pukul 02.02
pertama baca mengingatkan pada masa kecil tapi mungkin masa kecil yang lebih kekotaan. Ha..Ha..Ha.. maklum anak kota. Tapi yang pasti bikin iri karena punya masa kecil yang indah di desa nan jauh di sana. Dan pastinya membua rindu akan masa - masa yang akan terus diingat ketika kita sedang jauh dari kampung halaman. Kalau pulang nanti, oleh - oleh jalangkote yach...
19 September 2008 pukul 04.54
wahh, ceritamu romantis. Saya sangat suka cerita-cerita begini. Menulisnya juga asik dan deskriptif.
Salam
-yani-
22 Mei 2009 pukul 21.45
ceritamu sama seperti ceritaku.....
apa kita satu kampung ya...
Posting Komentar