Tepat pukul 00.15 wita 2 Agustus 2008 acara dimulai, pertunjukan yg dikemas dengan tema romantic independent dengan bintang tamu yovie and the nuno mengubah suasana hingar bingar pub yang penuh sesak dan asap rokok menjadi lebih tenang, beberapa hits andalan dilantunkan membuat para pengunjung terutama kaum hawa histeris termasuk my cousin. Irny yang bela-belain manjat jendela guna bangunkan saya dari tidur agar ditemani nonton pertunjukan ini. cahaya lighting bergerak liar menyesuaikan irama lagu yang didendangkan, dari bagian belakang tampak pula cahaya kecil bersumber dari handphone yang merekam setiap moment performance band ini. Janji suci salah satu hits dari album kedua membuat perasaanku mulai gelisah , hati kecilku memanggil ingin segera menghadap dengan monitor computer, membiarkan jari-jemariku menari di atas tuts keyboard membuat tulisan baru buat budistorys. “Hampirmi habis kak, paling sisa dua tiga lagu” pinta Irny. Begitu pertunjukan selesai tanpa basa basi kami langsung cabut. Tidak ada kesan buat pertunjukan saat itu karena pikiranku hanya satu yakni computer. Pas nyampe rumah tanpa pikir panjang tombol power segera kucari setelah tahap demi tahap akhirnya notepad sudah siap diisi suara tuts keyboard memecah heningnya malam.tiktaktiktaktiktiaktiktiak
Karena datangnya telat, terpaksa nonton pada jam berikutnya, pemutaran film masih lama akhirnya kami berinisiatif nyari makan. Pengunjung mp sangat padat “seperti pasar tradisional” ujarku sembari nunjuk kearah orang-orang lagi ngantri dikassa. Empek-empek manjadi pilihan utama saat itu. Sembari nunggu makanan diantar, kami ngobrol macam-macam yang tidak jelas mana pangkal dan ujungnya, akhirnya saya bercerita tentang salah seorang guruku, sahabatku, panutanku, juga teman seperjuangan di Selayar. “Sapa namanya, kak?” tanya faiqa. Ullang begitu saya memanggilnya. Dimataku dia orang yang sarat pengalaman dengan masyarakat grassroot, kenalannya di Jogja. Lupa dalam rangka apa dia waktu itu…karena anak ini kuliah di ITS Surabaya. Setahu saya Ullang ini menjadi tumbal kejamnya kebijakan kampus . Dia di DO! “kenapa bisa di DO! Kak?”Faiqa kembali bertanya, misinya sangat berguna bagi mahasiswa saat itu dan mungkin sampai sekarang. “apa misinya?” tanya Faiqa. Dia menginginkan dalam proses perumusan kebijakan kampus, mahasiswa juga harus dilibatkan. Sayapun melanjutkan salah satu kisahku bersama Ullang di Selayar, berkat restu orang tua pagi itu, akhirnya saya menuju Bira menggunakan roda duanya kemudian dilanjutkan dengan ferry menuju selayar. Suara sirene menggema di atas ferry pertanda kapal akan segera berangkat meninggalkan Pelabuhan Tanjung Bira, dalam perjalanan Ullang bercerita kalau ditempat yg kami kunjungi nanti masih terbelakang jadi kita harus mengeluarkan seluruh kemampuan yang dimiliki agar masyarakat Selayar bisa keluar dari problematikanya. “Ooooo begitu …nanti diliat, pusingka bela besarki ombak“jawabku. setelah dua jam lebih terombang ambing akhirnya kapal merapat di pelabuhan Pammatata, ini kali pertama menginjakkan kakiku di Selayar. Dia sudah sering! “dimanaki tinggal kak?” tanya faiqa lagi, numpang dikolom rumah orang kadang di kantor-kantor.
musim berganti kalau apes yach kehujanan karena tempat kami tinggal atapnya bocor. “Kodong!!!” Faiqa turut prihatin dengan kondisi kami. Tanpa terasa sudah 4 bulan kami bergerilya dan pastinya punya anak didik namanya Iknul dan Fandi. sudah ada beberapa masalah yang terurai dengan scenario yang kami bangun. Salah satunya mengenai keterlambatan pengesahan APBD. “Darimanaki dapat massa bagaimana ceritanya?” tanya Faiqa lagi. kami bergantian mendatangi partai, organisasi kepemudaan maupun LSM. Kami mengajak mereka berdiskusi agar tercipta sebuah frame berpikir yang sama terhadap kebijakan anggota DPRD segera melakukan pengesahan APBD. Karena target tidak terealisasi akhirnya kami menjadi “bombers” dengan menggunakan sepeda ontel milik tetangga kami membagi diri bergerak disaat orang lagi tidur terlelap dimalam hari, “dari mana dapat duit beli cat dan pilox” tanya Faiqa lagi, Gampang datangi pejabat ngaku mahasiswa lagi melakukan penelitian, terus minta tambahan dana pasti dikasih biarpun itu sedikit. Nah kota yang bersih berubah menjadi kotor, terutama jalur menuju kantor DPRD penuh dengan tulisan “APBD UNTUK SIAPA?”, “mentong kita” faiqa kembali coddo, jalan hotmik juga kami beri tulisan, baliho rokok tidak luput dari sasaranku tulisan merokok saya coret diganti dengan APBD.”wkwkwkwkwk” faiqa akhirnya tertawa mendengar ceritaku “masa APBD dapat menyebabkan kanker, serangan jantung, impotensi dan gangguan kehamilan dan janin, mentong kita kak… sambarang skali kita bikin!.” Ujar Faiqa.
Cara ini terpaksa kami ambil demi mengefektifkan “pergerakan” setelah melihat reaksi masyarakat yang merespon dengan baik akhirnya kami melanjutkan ke plan berikutnya yaitu menemui pentolan organisasi kepemudaan, “masa dinding dan jalan bisa bicara sementara kamu dan organisasimu tidak melakukan apa-apa, berbuat dong ini bukan untuk siapa-siapa melainkan ini untuk masyarakat selayar sendiri” ujar Ullang, “liat pasar sekarang, sepi! tingkat transaksi sangat rendah, dibeberapa wilayah terjadi peningkatan tindakan kriminalitas pencurian sudah terjadi, ini akibat jumlah uang yang beredar sangat sedikit” ungkapku. Perekonomian selayar sangat bergantung pada APBD bisa dibayangkan duit ratusan millar yang seharusnya berputar dimasyarakat tertahan akibat pengesahan APBD yang tertunda. Nampak jelas peningkatan jumlah penganguran, buruh bangunan, tukang kayu dll kehilangan pendapatan karena tidak ada proyek yang terlaksana penjelasan-penjelasan seperti itulah yang kami utarakan dengan harapan mereka mau berbuat. “maunya tong itu orang di kasih begitu, nah tidak kenalki!” coddo Faiqa. Saya hanya senyum sambil malanjutkan ceritanya.
Pekerjaan kami belum selesai saat itu setiap moment yang tepat pasti kami manfaatkan mensosialisasikan isu atau opini, sebelum sholat jumat selebaran kami taruh di mesjid-mesjid membentuk opini masyarakat betapa pentingnya anggaran APBD segera di cairkan. Misi kami berhasil! ada pergerakan yang dipimpin oleh putra daerah mereka berbondong-bondong mendatangi kantor DPRD menyampaikan aspirasinya, tak lama setelah pergerakan itu akhirnya setelah sekian bulan tertunda APBD pun disahkan. Perekonomianpun kembali bergejolak! “provokator” ujar Faiqa. Saya hanya tersenyum mendengar pernyataan seperti itu. “ini buat rakyat bos bukan untuk kami, kami hanya malaksanakan misi yakni memberikan pencerahan kepada mereka yang membutuhkan” jawabku sembari mengangkat nomer meja pesanan karena empek-empek yang kata faiqa enak belum juga nampak dihadapan kami.
Tak lama kemudian kami menikmati pesanan setelah sekian lama menunggu. “Seru nah hidupku di Selayar sama Ullang”ungkapku karna pertunjukan film masih lama akhirnya saya kembali bercerita tentang masyarkat selayar yang sangat bergantung pada daerah lain. Setelah melakukan investigasi kecil-kecilan “Masa telur ayam ras mesti didatangkan dari daerah seberang”ujarku, ada tujuh distributor telur, total telur yang mereka datangkan telur dari Makassar, Sidrap sekitar 20 ribu biji perbulan sementara produksi telur di Selayar sendiri hanya 3 ribuan artinya peluang untuk menggarap usaha ini terbuka lebar. “mentong kita di!” kalimat yang kesekalian kalinya diucapkan Faiqa. “masalahnya begini bos! Lahan ada, bahan baku ada, apalagi yang kurang! Kerja mami” ungkapku. Kami mendatangi pondok pesantren tempat 3 ribu biji telur itu diproduksi. Tinggal disana belajar mulai dari pagi hingga pagi keesokannya, setelah semua data tentang ayam buras terkumpul kami mulai mendatangi instansi terkait menanyakan kebijakan pemerintah tentang program dibidang peternakan khususnya ayam petelur ternyata nihil sudah mulai lagi deh…hehehe…”kak magribmi pergiki dulu sholat, nantipi lagi ceritanya…” ajak faiqa. Dengan semangat 45 kami bergegas menuju musholla. setelah sholat kami pun langsung menuju studio 21. Malam Jam 8 Lewat sekian menit saya berpisah dengan Faiqa di MP setelah nonton the mummy 3.
0 komentar:
Posting Komentar