08 08 2008 dari jauh nampak seperti sarang burung, didalam “sarang burung” itulah sebuah perhelatan akbar 4 tahun sekali dilaksanakan. Olympiade dibuka! pertunjukan laser, multimedia, lighting, gerakan kungfu serta tarian tradisional hingga kembang api. Bersatu dalam pementasan yang luar biasa. “ini baru pertunjukan kelas dunia” dibenakku. China berhasil mengatakan kepada halayak dunia bahwa negaranya juga mampu membuat satu prosesi yang bertaraf internasional. kalau kita kapan yach? Saya mau kok jadi relawan! Selain itu dalam penanggalan mereka tanggal 08082008 merupakan hari keberuntungan “katanya!”.
Namun bagi saya hari ini adalah hari Jumat dan layaknya hari-hari biasanya, yang berubah hanya pola kegiatan. Kalau kemarin hampir dipenuhi dengan aktifitas kantor namun kali ini tidak ada kegiatan kantor, aktifitasku dipenuhi dengan tema ”vacancy”.
Sudah tidak ada urusan dengan Makassar, tidak ada lagi yang bisa mengurungkan niatku untuk meninggalkan Makassar, “Saya harus tiba di bantaeng secepat mungkin”. Diterminal Mallingkeri saya ketemu dengan Kasim temanku mencari jangkrik dulu. Kasim sekarang menetap di Berau, dalam perjalanan menuju Bantaeng dia bercerita tentang kegigihannya memeberantas suap menyuap dikalangan anggota DPRD setempat, kasus illegal logging, sampai perjudian kelas kakap dan ujung-ujungnya kami cerita masa kecil kita kalau mencari jangkrik, main layangan, serta main perang-perangan hahaha…
Suara gemuruh Angin kencang tak hentinya bergerak mengiringi tiap langkahku menuju “pos monyet” ditambah hujan rintik-rintik membuat cuaca malam ini terasa sangatlah dingin, bagaikan seribu jarum menembus kulit dan daging melubangi tulang hingga berendam dalam sum-sum. pos moyet kosong entah kemana para sahabatku. Salah seorang muncul dari balik pos menyampaikan kalau ada anak-anak menunggu dibelakang tak jauh dari pos. sekitar 15 orang membentuk meja bundar ditengahnya terdapat ember dan beberapa botol tersusun rapi berdiri tegak membentuk siluet berkat penerangan lampu 5 watt, rupanya mereka lagi menikmati malam ini. “Woe sudahmo! cepatmako habiskan mitu minumanmu! Saya butuh informasi baru tentang Bantaeng” ujarku sembari menyalami mereka satu persatu. “kapan datang sodara!” ujar Komar sambil merangkul pundakku. “Barusan. Kukira berhentimako minum kau ternyata masih toh …hehehe” ujarku. setelah ngobrol dan mendapatkan informasi dari mereka saya minta permisi.
Menemui para orang-orang tua yg aktif dipartai, serta tim sukses adalah hal menarik malam itu. Pembicaraan mereka berputar pada wilayah bagaimana bisa menuju, melanggengkan kekuasaan, setelah menunggu sekian lama akhirnya saya mendapat satu moment dimana saya harus mengutarakan keluh kesah saya waktu itu. “begini pak. Sebenar saya mau bertanya ini tentang 2 pabrik minumam mineral kemasan yang ada di sana” ujarku sembari menunjuk kearah gunung. Tanpa basa basi saya langsung keinti permasalahan. Mengutarakan unek-unek malai dari pemberdayaan masyarakat hingga program pendidikan yang di berikan kepada mereka ang tidak mampu. “1. alangkah bagusnya itu pihak pengelolah pabrik kalau bisa berbuat seperti ini pak!sebahagian dari keuntungan usaha diberikan kepada masyarakat sekitar pabrik untuk digunakan sebagai biaya pendidikan tidak usahmi kesehatan, itumo dulu! karna pasti ada masyarakat yang membutuhkan itu? Saya tidak pernah dengar klu ada santunan dari perusahaan itu;2. Sebaiknya jangan hanya menguras sumber daya alam, terus mengabakan ekosistem yang ada disekitar situ, makin hari makin gundul itu kuliat gunung, otomatismi pak! debet air pasti makin berkurang sementara pabrik itu bergantung pada debet air;3. Pemberdayaan masyarakat setempat, masa cuman angkat kardus atau jadi satpam harus mendatangkan karyawan dari Makassar, disekitar lokasi pabrik itu pak, ada beberapa dari anggota masyarakat yang bisa dan siap pake”. Mendengar penjelasan itu suasana yang tadinya hiruk pikuk yang penuh dengan kepulan asap rokok menjadi hening sejenak sayapun minta penjelasan dan mereka hanya bisa mengatakan memang itu tidak ada yang ngurus! Ringkas jelas. “Kalau tidak dimulai dari sekarang terus kapan Pak! Ini akibat pengelolaan keuangan daerah yang tidak transparan coba kita liat daerah orang seperti Jembrana bali, mereka berhasil meningkatkan perekonomian masyarakat setempat!” ujarku. Karena saya sadar bahwa berada diantara orang-orang tua sayapun tidak terlalu ngotot meminta penjelasan, buatku ini hanya sebuah isu local yang pernah kusebar beberapa tahun yang lalu.