Spiga

China laser, Kami 5 watt

08 08 2008 dari jauh nampak seperti sarang burung, didalam “sarang burung” itulah sebuah perhelatan akbar 4 tahun sekali dilaksanakan. Olympiade dibuka! pertunjukan laser, multimedia, lighting, gerakan kungfu serta tarian tradisional hingga kembang api. Bersatu dalam pementasan yang luar biasa. “ini baru pertunjukan kelas dunia” dibenakku. China berhasil mengatakan kepada halayak dunia bahwa negaranya juga mampu membuat satu prosesi yang bertaraf internasional. kalau kita kapan yach? Saya mau kok jadi relawan! Selain itu dalam penanggalan mereka tanggal 08082008 merupakan hari keberuntungan “katanya!”.

Namun bagi saya hari ini adalah hari Jumat dan layaknya hari-hari biasanya, yang berubah hanya pola kegiatan. Kalau kemarin hampir dipenuhi dengan aktifitas kantor namun kali ini tidak ada kegiatan kantor, aktifitasku dipenuhi dengan tema ”vacancy”.

Sudah tidak ada urusan dengan Makassar, tidak ada lagi yang bisa mengurungkan niatku untuk meninggalkan Makassar, “Saya harus tiba di bantaeng secepat mungkin”. Diterminal Mallingkeri saya ketemu dengan Kasim temanku mencari jangkrik dulu. Kasim sekarang menetap di Berau, dalam perjalanan menuju Bantaeng dia bercerita tentang kegigihannya memeberantas suap menyuap dikalangan anggota DPRD setempat, kasus illegal logging, sampai perjudian kelas kakap dan ujung-ujungnya kami cerita masa kecil kita kalau mencari jangkrik, main layangan, serta main perang-perangan hahaha…

Suara gemuruh Angin kencang tak hentinya bergerak mengiringi tiap langkahku menuju “pos monyet” ditambah hujan rintik-rintik membuat cuaca malam ini terasa sangatlah dingin, bagaikan seribu jarum menembus kulit dan daging melubangi tulang hingga berendam dalam sum-sum. pos moyet kosong entah kemana para sahabatku. Salah seorang muncul dari balik pos menyampaikan kalau ada anak-anak menunggu dibelakang tak jauh dari pos. sekitar 15 orang membentuk meja bundar ditengahnya terdapat ember dan beberapa botol tersusun rapi berdiri tegak membentuk siluet berkat penerangan lampu 5 watt, rupanya mereka lagi menikmati malam ini. “Woe sudahmo! cepatmako habiskan mitu minumanmu! Saya butuh informasi baru tentang Bantaeng” ujarku sembari menyalami mereka satu persatu. “kapan datang sodara!” ujar Komar sambil merangkul pundakku. “Barusan. Kukira berhentimako minum kau ternyata masih toh …hehehe” ujarku. setelah ngobrol dan mendapatkan informasi dari mereka saya minta permisi.

Menemui para orang-orang tua yg aktif dipartai, serta tim sukses adalah hal menarik malam itu. Pembicaraan mereka berputar pada wilayah bagaimana bisa menuju, melanggengkan kekuasaan, setelah menunggu sekian lama akhirnya saya mendapat satu moment dimana saya harus mengutarakan keluh kesah saya waktu itu. “begini pak. Sebenar saya mau bertanya ini tentang 2 pabrik minumam mineral kemasan yang ada di sana” ujarku sembari menunjuk kearah gunung. Tanpa basa basi saya langsung keinti permasalahan. Mengutarakan unek-unek malai dari pemberdayaan masyarakat hingga program pendidikan yang di berikan kepada mereka ang tidak mampu. “1. alangkah bagusnya itu pihak pengelolah pabrik kalau bisa berbuat seperti ini pak!sebahagian dari keuntungan usaha diberikan kepada masyarakat sekitar pabrik untuk digunakan sebagai biaya pendidikan tidak usahmi kesehatan, itumo dulu! karna pasti ada masyarakat yang membutuhkan itu? Saya tidak pernah dengar klu ada santunan dari perusahaan itu;2. Sebaiknya jangan hanya menguras sumber daya alam, terus mengabakan ekosistem yang ada disekitar situ, makin hari makin gundul itu kuliat gunung, otomatismi pak! debet air pasti makin berkurang sementara pabrik itu bergantung pada debet air;3. Pemberdayaan masyarakat setempat, masa cuman angkat kardus atau jadi satpam harus mendatangkan karyawan dari Makassar, disekitar lokasi pabrik itu pak, ada beberapa dari anggota masyarakat yang bisa dan siap pake”. Mendengar penjelasan itu suasana yang tadinya hiruk pikuk yang penuh dengan kepulan asap rokok menjadi hening sejenak sayapun minta penjelasan dan mereka hanya bisa mengatakan memang itu tidak ada yang ngurus! Ringkas jelas. “Kalau tidak dimulai dari sekarang terus kapan Pak! Ini akibat pengelolaan keuangan daerah yang tidak transparan coba kita liat daerah orang seperti Jembrana bali, mereka berhasil meningkatkan perekonomian masyarakat setempat!” ujarku. Karena saya sadar bahwa berada diantara orang-orang tua sayapun tidak terlalu ngotot meminta penjelasan, buatku ini hanya sebuah isu local yang pernah kusebar beberapa tahun yang lalu.

Cerita dari Pantai Timur

menumpangi toyota land cruiser prado mobil meluncur ke arah selatan, setelah melewati perempatan Tanabau, mobil bergerak ketimur melewati jalan aspal yang sudah rusak di beberapa tempat, berkelok-kelok, mendaki serta turunan yang terjal namun perjalanan itu kami menikmati pemandangan yang ada. Kebun kelapa tersusun rapi namun buahnya yang jatuh dibiarkan begitu saja tergeletak menunggu tupai atau pemilik datang mengambilnya, melihat keadaan seperti itu saya teringat dengan desa Krebet, Bantul. Daerah ini dikenal dengan industri kerajinan tangan berbahan kayu mulai dari penahan pintu hingga cendramata pesta pernikahan.
Akibat musim kemarau yang panjang hutan jati di kiri dan kanan jalan hanya menyisahkan batang dan ranting sementara tumbuhan di sekitarnya tidak ada yang hidup sama sekali, dikejauhan areal hutan yang masih perawan begitu indah dipandang mata tapi di beberapa tempat nampak sisa pembakaran hutan, ”wah itu bahaya” tutur Syahrir Wahab (SW) khawatir melihat bukit di sisi jalan yang hampir setengah dari tambuhan hidup sudah menjadi arang, waktulah akan menjawab itu apakah tidak lama lagi terjadi longsor atau tidak, karena musim hujan sudah dekat.
”berhentiko dulu sebentar, Tahir,” ujar SW. Sejenak mengamati kebun jambu mente yang sedang berbuah, ”di sini buahnya bagus, beda dengan Bira,” ungkap SW, menurut Haro’ anak seorang penampung jambu mente ”Selayar dalam sekali panen bisa menghasilkan mente sekitar 1000 kg namun hanya sebahagian yang bisa diolah, padahal harga setelah diolah bisa 3 sampai 4 kali lipat perkilonya, kualitas jambu kita bagus! kadar airnya sedikit kata eksportir di Makassar.”
Menelusuri jalan yang berdampingan dengan pinggir pantai, melewati rumah nelayan, dermaga kayu, magrove, serta kebun kelapa pemandangan itu bikin kami terlena kalau perjalanannya sudah jauh, kami mulai gelisah karena mobil yang di depan semakin jauh meninggalkan kami, ”berhentiko dulu kita tunggu mobil lainnya,” ujar Hj. Norma tak lama muncul mobil satunya setelah konfirmasi barulah kami tahu kalau tempat pikniknya telah sudah lewat, ”saya pikir mobil di depan kami itu tahu tempat rekreasinya, ternyata tidak!” kenangku, mobil yang kami tumpangi balik arah menuju lokasi piknik sementara mobil yang satunya mengejar mobil yang sudah jauh.
Angin sepoi-sepoi terasa sangat menyejukkan di bawah rimbunan pohon ketapang tak jauh dari bibir pantai namun baunya kurang mengenakkan dihidung karena ada kotoran sapi, "padahal limbah kotoran sapi cukup potensial sebagai penghasil energi alternatif (biogas) setelah melalui fermentasi bisa menjadi pupuk organik yang siap pakai dengan kandungan unsur hara tinggi sangat berguna bagi tanaman dan secara otomatis kebersihan kandang terjaga," ungkapku saat berdua dengan SW melihat beberapa ekor sapi di dalam kandang, sementara yang lain terutama Tahir mencari tempat parkir yang aman diantara pohon kelapa.
Air laut sedang pasang, tikar digelar tepat dibibir pantai alat tangkap jala ditinggal begitu tergantung di atas pohon sementara pemiliknya entah kemana, lepa-lepa berjejer sekitar kami menambah suasana laut kian kental, ”kio sai injo tu’bojanjo juku,” ujar SW kepada salah seorang dari kami sedang berjalan menyusuri pantai mendekati dua orang nelayan yang sedang memasang jaring tak jauh dari tempat kami, sang nelayanpun datang dalam keadaan basah kuyup, badannya dibungkus dengan kain handuk seadanya ngobrol dengan SW masalah potensi rumput laut melihat arus dan lokasi yang sangat strategis untuk pengembangan rumput laut di pantai itu,”bikinko kelompok baru dikasihko bantuan (dalam bahasa selayar),” pinta SW ”susah karena dalam sekaliki didaerah situ (dalam bahasa selayar),” jawab sang nelayan sambil menunjuk kearah laut.
Posisi matahari tepat di atas kami, mobil yang lainpun datang bersama beberapa masyarakat setempat yang sudah siap dengan senjata panah dan golok dipinggang diantara mereka ada yang langsung kelaut mencari ikan ada yang mengambil kelapa muda, aroma ikan bakar mengundang selera ”makan dulu nantipi dilanjut itu,” ujar Hj. Norma Syahrir setelah melihat ransum sudah siap. Asik-asiknya makan tiba-tiba rombongan ibu-ibu serta kader posyandu dari desa Patilereng serta pak Kades datang mereka langsung bergabung menikmati hidangan yang ada.
Diskusi kecil antara ibu-ibu tercipta menyambut lompa posyandu sementara Pak Bupati dan Pak desa juga asik ngobrol berdua setelah menikmati hidangan makan siang, saya juga asik dengan penduduk setempat ”bagaimana dengan rumput laut disini, Bos?” ujarku memulai pembicaraan, ”dulu pernah ada dilokasi ini tapi habis dimakan oleh binatang laut seperti ular jadi tidak berhasil,” jawab Andi lelaki yang sangat piawai memanjat pohon kelapa ”kalau masyarakat disini pekerjaan aslinya berkebun kelaut itu pengisi waktu, sampingan! itu bapak tadi yang bicara dengan Bupati sehari-harinya bikin gula merah,” ungkap Andi sembari menawarkan tempat duduk. Andi orang yang senang bercanda dia juga mengajari saya kalau makan ikan kecil, lupa nama ikannya ditusuk setelah matang langsung di celup ke pantai itu katanya enak setelah mencoba dan merasakan apa yang dikatakan ternyata betul memang enak.
”Sabar-sabar saja tunggumi saya baru menyelam mencari ikan,” (dalam bahasa selayar) ujar Pak Karim dengan nada bercanda. Sosok yang penuh dengan keceriaan mulai berenang kesana kemari, menyusul SW dengan menggunakan kacamata selam bupati mulai menyelam diantara
sampah plastik yang hanyut di pantai, sasarannya bukan ikan melainkan batu-batuan yang pas buat aquarium.
Setelah berenang di laut dalam keadaan masih basah permainan catur dimulai lagi, ”lohe kare’kare’nang naisse tapi tide numaccai.” tutur SW saat menggoda pak karim mengeluarkan senjata pamungkasnya dalam bermain catur. pertarungan sengit berlangsung lama, dua orang sahabat beradu strategi, taktik, setiap gamenya permainan yang memerlukan konsentrasi penuh namun dihiasi dengan canda tawa membuat orang yang nonton tertawa. Waktu terus berjalan tak terasa hari sudah mulai sore setelah menikmati pantai rombongan kembali ke Benteng. Sampai ketemu di piknik berikutnya.

GADO GADO. Barru 30/07/2008

“Setelah perkenalan itu aku terhanyut, aku sebenar-benarnya tak kuasa mendambakannya, merindukannya Kutahu dia milikmu tercinta sebagai kembang yang kau pilih namun hatiku hatinya mengisyaratkan rasa ingin memetik merangkai menjadikan ikatan abadi…” Suara drum perkusi yg menghentak mengikuti metronome yang dibangun oleh gitar lead dan rytem di jahit bergantian mengisi nada demi nada, bass guitar juga tidak mau ketinggalan dalam harmonisasi namun kurang lengkap adonannya tanpa suara vocal yang memiliki karakter tersendiri di belantika music Indonesia, membuat kami berenam kecuali pak Dirman sang “coordinator tim” merangkap driver, bernyanyi bersama “oo sobat maafkan mencintainya aku tak bermaksud membuatmu sungguh tak berarti…oo” lagu yg dipopulerkan oleh band Padi mengiringi perjalan kami meninggalkan kota Makassar. Bersama dengan K’ Sheva, Fadly, Rafi, Noe, Cakra kami berangkat menuju Barru dalam satu tim promosi “kelas jarak jauh”, walaupun saya dalam kondisi masih ngantuk karena malamnya ikut nimbrung main ps3 bareng teman-teman, namun perjalanan ini tetap membuatku semangat karena diselingi dengan canda tawa diantara kami sembari menikmati apa yg ada.
Karna duduknya pas di belakang driver otomatis hanya pemandangan sisi kanan yang jelas diretina mataku. sepanjang maros pangkep saya melihat hamparan sawah yg sudah menunduk bergoyang diterpa angin menggoda pemiliknya agar segera dipanen, sesekali melihat gunung yang makin hari semakin rendah karena menjadi bahan utama pembuatan semen, arsitektur rumah panggung di Maros dan sebelum masuk kota Pangkep hampir memiliki kesamaan yakni tidak memiliki serambi, paling yg berbeda hanya warna atau jenis kayu yg di gunakan.
Karna tak kuasa menahan rasa ngantuk akhirnya sayapun ikut tertidur, setelah mendekati SMA Neg 1 Barru barulah terbangun. Hari itu 30 Juli 2008 tepat peringatan ulang tahun SMA Negeri 1 Barru, “mulai dari alumni hingga anak kelas satu berbaur dalam rangkaian kegiatan yg telah disusun oleh panitia” ujar salah seorang tenaga pengajar. Lapangan bola basket dirubah sedemikian rupa hingga pertandingan futsal bisa berlangsung, dilapangan volley menjadi ajang lomba karung. Sementara peserta lainnya mengikuti tarik tambang, ditempat lainnya ada bersorak gembira setelah mendapatkan undian sepeda.
Noe, Cakra, Fadli kebagian tugas berhadapan dengan siswa dikelas sementara Kak Safar dan pak Dirman membantu saya mempersiapkan multimedia presentasi di Aula sekolah. “Batu Cobek” tidak tahu kemana! Setelah semuanya selesai “batu cobek” muncul dari arah Musholla. Briefing sebentar terus nyari kantin sekolah, dinding terbuat dari terpal plastic sementara atapnya menggunakan seng yg sudah mulai karatan. Dibalik tempat itu, satu keluarga kecil dari Jawa menjajakan makanan buat anak sekolah. saya langsung ingat dengan menu andalan semasa sekolah “SOP UBI GORENG” toge, lassa, mie instan plus ubi goreng dipotong-potong berbentuk dadu disiram dengan kuah terus taruh kacang ditambah kecap secukupnya ama jeruk nipis sesuai selera, enak toh …!!! ”saya ingat dulu toh waktu SMA! kadang saya makan ubi dua potong terus minum air putih lima gelas, sembari tertawa diapun memperjelas alasannya biar kenyang…hehehe” ungkap Kak Safar. karena yang tersedia hanya bakso dan gado-gado akhirnya kami sepakat menu sarapan kita kali ini adalah GADO-GADO. Satu persatu makanan diantar, akhirnya penjualnya mengatakan bahan gado-gadonya habis mas, sementara Kak Safar belum kebagian “mau diapa lagi, itumo bakso, daripada tidak makan!” ujar kak Safar.
Setelah siswa mengerjakan soal dikelas, satu persatu teman-teman ambil bagian melanjutkan tujuan utama kami “PROMOSI”. Pembahasan berbeda dengan biasanya panitia local tidak menyediakan sound system, tapi itu bukan alas an buat kami pembahasan soal try out tetap dilanjutkan. Berkat kesigapan siswa sebuah toa dibawa kepembahas pertama Kak Safar, suasana berubah menjadi heboh “seperti penjual obat dipasar”celetuk salah seorang siswi… hehehheheheheh. Cakra, Fadly, Rafi, Noe. Saya asik dengan Laptop bergelut dengan kertas LJK, suasana makin heboh saat pengumuman hasil try out ditampilkan dilayar. Setelah mendapat kenang-kenangan dari kami rangkaian kegiatanpun berakhir. Kamipun pamitan “sampai jumpa di kelas jarak jauh”.
“Nanti di Pangkep kita makan siang” ujar Kak Safar, mobilpun bergerak kembali ke Makassar. Sepertinya Barru ama Pangkep lagi membangun di beberapa tempat tampak pasak-pasak beton tertancap kebumi, beberapa kan tor ataupun lapangan lagi dalam perbaikan. Kali ini hutan bakau, empang serta laut menghiasi pandanganku. “Berhentiki dulu, Pak! penasaranka seperti apa rasanya itu dange rasa keju” pinta Kak Safar. “Dimanamaki ini kak?” ujarku. “Sigeri belumpi Pangkep” jawab Pak Dirman.
Seorang gadis kecil bertubuh gempal, alis tebal sesekali merapikan rambutnya yang pendek diterpa angin menjajakan “dange rasa keju”, aslinya panganan ini terbuat dari tepung ketan hitam dicampur dengan parutan kelapa diaduk hingga rata kemudian dimasukkan kedalam adonan berbentuk setengah lingkaran, setelah di bakar beberapa saat barulah madu asli dimasukkan sebagai pemanis, tapi sekarang panganan ini sudah jarang yg memakai madu dan boleh dikata sudah tidak ada penggantinya adalah gula merah yg sudah halus ditaburi pada saat di bakar, belum lagi tepungnya sudah dicampur dengan gula pasir. “masih ada de! Dange rasa keju?” ujar Kak Safar, dengan logat yang khas gadis kecil itu menjawab “habismi pak! Tinggal yang biasa, temanku disebelah masih ada najual” sambil membuka penutup race cooker yang sudah kosong, tempat menyimpan dange agar tetap hangat. “itumo paeng punya temanmu ambilkanka dua kotak nah” pinta Kak Safar, anak itupun segera beranjak dari kursi berlari memecah debu yang beterbangan, tak lama anak itu kembali membawa kresek hitam berisi 2 buah kotak dange rasa keju. “makan disinimi saja deh kak” pintaku. Makanan ini terasa kasar dimulut karena sisi-sisinya setengah hangus waktu proses akhir, nanti setelah dikunyah barulah aroma kelapa dan ketan hangus menambah cita rasa makanan ini sebelum melewati tenggorokan. Justru keju yang menjadi brending produk tidak terasa sama sekali. 2 kotak habis dalam sekejap “pesan lagi satu, yg biasamo! buat oleh-oleh” ujar Kak Safar. Gadis kecil itu akhirnya tersenyum lebar meladeni permintaan kami, lambaian tangan mungilnya mengiringi perjalanan kami. karena penasaran dange standart akhirnya tinggal menyisahkan 5 potong. Perjalanan pulang dilanjutkan semua kembali ketempat duduk masing-masing, diKiri kanan jalan terdapat papan-papan ukuran sedang dengan tulisan seadanya “menjual dange dan serabeng”, yang membedakan mereka cuma angka yg mudah dingat. Yang membuat kami geleng-geleng kepala karena diantara papan-papan itu ada tulisan jalangkotek dipenggal tidak seperti biasanya akhirnya menjadi jalang dan kotek.
Setelah melewati ibukota Kecamatan Sigeri, “Dufan Pangkep” yang dibungkus dengan tembok berwarna putih kami lewati, leherku berputar melawan arah jarum jam mendekati titik radius 360 derajat melihat taman bermain. sambil menelan air liur “hati kecilku berkata coba singgahki disitu di!!! pasti makin seru ini perjalanan”, setelah melewati jalan beton yang belum selesai saya
tertidur, belum pulas tidurku saya dibangunkan “kak dekatmi warung mauki makan siang” ujar cakra sembari menepuk-nepuk pundakku, Ada tiga warung berdampingan, semunya menjual menu yang sama ikan bakar dan sop saudara salah satu makanan yang sangat terkenal di Sulawesi Selatan. Satu persatu memesan sesuai selera, waktu saya kepala ikan baronang. Setelah sholat Dzuhur barulah kami menikmati pesanan kami. Setelah semuanya kenyang kami memilih melanjutkan perjalanan pulang karena dua diantara kami masih utang mengajar di beberapa cabang, saya pun melanjutkan tidur nanti setelah sampai baruga baru terbangun.

APBD dapat menyebabkan kanker

Tepat pukul 00.15 wita 2 Agustus 2008 acara dimulai, pertunjukan yg dikemas dengan tema romantic independent dengan bintang tamu yovie and the nuno mengubah suasana hingar bingar pub yang penuh sesak dan asap rokok menjadi lebih tenang, beberapa hits andalan dilantunkan membuat para pengunjung terutama kaum hawa histeris termasuk my cousin. Irny yang bela-belain manjat jendela guna bangunkan saya dari tidur agar ditemani nonton pertunjukan ini. cahaya lighting bergerak liar menyesuaikan irama lagu yang didendangkan, dari bagian belakang tampak pula cahaya kecil bersumber dari handphone yang merekam setiap moment performance band ini. Janji suci salah satu hits dari album kedua membuat perasaanku mulai gelisah , hati kecilku memanggil ingin segera menghadap dengan monitor computer, membiarkan jari-jemariku menari di atas tuts keyboard membuat tulisan baru buat budistorys. “Hampirmi habis kak, paling sisa dua tiga lagu” pinta Irny. Begitu pertunjukan selesai tanpa basa basi kami langsung cabut. Tidak ada kesan buat pertunjukan saat itu karena pikiranku hanya satu yakni computer. Pas nyampe rumah tanpa pikir panjang tombol power segera kucari setelah tahap demi tahap akhirnya notepad sudah siap diisi suara tuts keyboard memecah heningnya malam.tiktaktiktaktiktiaktiktiak

Karena datangnya telat, terpaksa nonton pada jam berikutnya, pemutaran film masih lama akhirnya kami berinisiatif nyari makan. Pengunjung mp sangat padat “seperti pasar tradisional” ujarku sembari nunjuk kearah orang-orang lagi ngantri dikassa. Empek-empek manjadi pilihan utama saat itu. Sembari nunggu makanan diantar, kami ngobrol macam-macam yang tidak jelas mana pangkal dan ujungnya, akhirnya saya bercerita tentang salah seorang guruku, sahabatku, panutanku, juga teman seperjuangan di Selayar. “Sapa namanya, kak?” tanya faiqa. Ullang begitu saya memanggilnya. Dimataku dia orang yang sarat pengalaman dengan masyarakat grassroot, kenalannya di Jogja. Lupa dalam rangka apa dia waktu itu…karena anak ini kuliah di ITS Surabaya. Setahu saya Ullang ini menjadi tumbal kejamnya kebijakan kampus . Dia di DO! “kenapa bisa di DO! Kak?”Faiqa kembali bertanya, misinya sangat berguna bagi mahasiswa saat itu dan mungkin sampai sekarang. “apa misinya?” tanya Faiqa. Dia menginginkan dalam proses perumusan kebijakan kampus, mahasiswa juga harus dilibatkan. Sayapun melanjutkan salah satu kisahku bersama Ullang di Selayar, berkat restu orang tua pagi itu, akhirnya saya menuju Bira menggunakan roda duanya kemudian dilanjutkan dengan ferry menuju selayar. Suara sirene menggema di atas ferry pertanda kapal akan segera berangkat meninggalkan Pelabuhan Tanjung Bira, dalam perjalanan Ullang bercerita kalau ditempat yg kami kunjungi nanti masih terbelakang jadi kita harus mengeluarkan seluruh kemampuan yang dimiliki agar masyarakat Selayar bisa keluar dari problematikanya. “Ooooo begitu …nanti diliat, pusingka bela besarki ombak“jawabku. setelah dua jam lebih terombang ambing akhirnya kapal merapat di pelabuhan Pammatata, ini kali pertama menginjakkan kakiku di Selayar. Dia sudah sering! “dimanaki tinggal kak?” tanya faiqa lagi, numpang dikolom rumah orang kadang di kantor-kantor.

musim berganti kalau apes yach kehujanan karena tempat kami tinggal atapnya bocor. “Kodong!!!” Faiqa turut prihatin dengan kondisi kami. Tanpa terasa sudah 4 bulan kami bergerilya dan pastinya punya anak didik namanya Iknul dan Fandi. sudah ada beberapa masalah yang terurai dengan scenario yang kami bangun. Salah satunya mengenai keterlambatan pengesahan APBD. “Darimanaki dapat massa bagaimana ceritanya?” tanya Faiqa lagi. kami bergantian mendatangi partai, organisasi kepemudaan maupun LSM. Kami mengajak mereka berdiskusi agar tercipta sebuah frame berpikir yang sama terhadap kebijakan anggota DPRD segera melakukan pengesahan APBD. Karena target tidak terealisasi akhirnya kami menjadi “bombers” dengan menggunakan sepeda ontel milik tetangga kami membagi diri bergerak disaat orang lagi tidur terlelap dimalam hari, “dari mana dapat duit beli cat dan pilox” tanya Faiqa lagi, Gampang datangi pejabat ngaku mahasiswa lagi melakukan penelitian, terus minta tambahan dana pasti dikasih biarpun itu sedikit. Nah kota yang bersih berubah menjadi kotor, terutama jalur menuju kantor DPRD penuh dengan tulisan “APBD UNTUK SIAPA?”, “mentong kita” faiqa kembali coddo, jalan hotmik juga kami beri tulisan, baliho rokok tidak luput dari sasaranku tulisan merokok saya coret diganti dengan APBD.”wkwkwkwkwk” faiqa akhirnya tertawa mendengar ceritaku “masa APBD dapat menyebabkan kanker, serangan jantung, impotensi dan gangguan kehamilan dan janin, mentong kita kak… sambarang skali kita bikin!.” Ujar Faiqa.

Cara ini terpaksa kami ambil demi mengefektifkan “pergerakan” setelah melihat reaksi masyarakat yang merespon dengan baik akhirnya kami melanjutkan ke plan berikutnya yaitu menemui pentolan organisasi kepemudaan, “masa dinding dan jalan bisa bicara sementara kamu dan organisasimu tidak melakukan apa-apa, berbuat dong ini bukan untuk siapa-siapa melainkan ini untuk masyarakat selayar sendiri” ujar Ullang, “liat pasar sekarang, sepi! tingkat transaksi sangat rendah, dibeberapa wilayah terjadi peningkatan tindakan kriminalitas pencurian sudah terjadi, ini akibat jumlah uang yang beredar sangat sedikit” ungkapku. Perekonomian selayar sangat bergantung pada APBD bisa dibayangkan duit ratusan millar yang seharusnya berputar dimasyarakat tertahan akibat pengesahan APBD yang tertunda. Nampak jelas peningkatan jumlah penganguran, buruh bangunan, tukang kayu dll kehilangan pendapatan karena tidak ada proyek yang terlaksana penjelasan-penjelasan seperti itulah yang kami utarakan dengan harapan mereka mau berbuat. “maunya tong itu orang di kasih begitu, nah tidak kenalki!” coddo Faiqa. Saya hanya senyum sambil malanjutkan ceritanya.

Pekerjaan kami belum selesai saat itu setiap moment yang tepat pasti kami manfaatkan mensosialisasikan isu atau opini, sebelum sholat jumat selebaran kami taruh di mesjid-mesjid membentuk opini masyarakat betapa pentingnya anggaran APBD segera di cairkan. Misi kami berhasil! ada pergerakan yang dipimpin oleh putra daerah mereka berbondong-bondong mendatangi kantor DPRD menyampaikan aspirasinya, tak lama setelah pergerakan itu akhirnya setelah sekian bulan tertunda APBD pun disahkan. Perekonomianpun kembali bergejolak! “provokator” ujar Faiqa. Saya hanya tersenyum mendengar pernyataan seperti itu. “ini buat rakyat bos bukan untuk kami, kami hanya malaksanakan misi yakni memberikan pencerahan kepada mereka yang membutuhkan” jawabku sembari mengangkat nomer meja pesanan karena empek-empek yang kata faiqa enak belum juga nampak dihadapan kami.

Tak lama kemudian kami menikmati pesanan setelah sekian lama menunggu. “Seru nah hidupku di Selayar sama Ullang”ungkapku karna pertunjukan film masih lama akhirnya saya kembali bercerita tentang masyarkat selayar yang sangat bergantung pada daerah lain. Setelah melakukan investigasi kecil-kecilan “Masa telur ayam ras mesti didatangkan dari daerah seberang”ujarku, ada tujuh distributor telur, total telur yang mereka datangkan telur dari Makassar, Sidrap sekitar 20 ribu biji perbulan sementara produksi telur di Selayar sendiri hanya 3 ribuan artinya peluang untuk menggarap usaha ini terbuka lebar. “mentong kita di!” kalimat yang kesekalian kalinya diucapkan Faiqa. “masalahnya begini bos! Lahan ada, bahan baku ada, apalagi yang kurang! Kerja mami” ungkapku. Kami mendatangi pondok pesantren tempat 3 ribu biji telur itu diproduksi. Tinggal disana belajar mulai dari pagi hingga pagi keesokannya, setelah semua data tentang ayam buras terkumpul kami mulai mendatangi instansi terkait menanyakan kebijakan pemerintah tentang program dibidang peternakan khususnya ayam petelur ternyata nihil sudah mulai lagi deh…hehehe…”kak magribmi pergiki dulu sholat, nantipi lagi ceritanya…” ajak faiqa. Dengan semangat 45 kami bergegas menuju musholla. setelah sholat kami pun langsung menuju studio 21. Malam Jam 8 Lewat sekian menit saya berpisah dengan Faiqa di MP setelah nonton the mummy 3.