“Setelah perkenalan itu aku terhanyut, aku sebenar-benarnya tak kuasa mendambakannya, merindukannya Kutahu dia milikmu tercinta sebagai kembang yang kau pilih namun hatiku hatinya mengisyaratkan rasa ingin memetik merangkai menjadikan ikatan abadi…” Suara drum perkusi yg menghentak mengikuti metronome yang dibangun oleh gitar lead dan rytem di jahit bergantian mengisi nada demi nada, bass guitar juga tidak mau ketinggalan dalam harmonisasi namun kurang lengkap adonannya tanpa suara vocal yang memiliki karakter tersendiri di belantika music Indonesia, membuat kami berenam kecuali pak Dirman sang “coordinator tim” merangkap driver, bernyanyi bersama “oo sobat maafkan mencintainya aku tak bermaksud membuatmu sungguh tak berarti…oo” lagu yg dipopulerkan oleh band Padi mengiringi perjalan kami meninggalkan kota Makassar. Bersama dengan K’ Sheva, Fadly, Rafi, Noe, Cakra kami berangkat menuju Barru dalam satu tim promosi “kelas jarak jauh”, walaupun saya dalam kondisi masih ngantuk karena malamnya ikut nimbrung main ps3 bareng teman-teman, namun perjalanan ini tetap membuatku semangat karena diselingi dengan canda tawa diantara kami sembari menikmati apa yg ada.
Karna duduknya pas di belakang driver otomatis hanya pemandangan sisi kanan yang jelas diretina mataku. sepanjang maros pangkep saya melihat hamparan sawah yg sudah menunduk bergoyang diterpa angin menggoda pemiliknya agar segera dipanen, sesekali melihat gunung yang makin hari semakin rendah karena menjadi bahan utama pembuatan semen, arsitektur rumah panggung di Maros dan sebelum masuk kota Pangkep hampir memiliki kesamaan yakni tidak memiliki serambi, paling yg berbeda hanya warna atau jenis kayu yg di gunakan.
Karna tak kuasa menahan rasa ngantuk akhirnya sayapun ikut tertidur, setelah mendekati SMA Neg 1 Barru barulah terbangun. Hari itu 30 Juli 2008 tepat peringatan ulang tahun SMA Negeri 1 Barru, “mulai dari alumni hingga anak kelas satu berbaur dalam rangkaian kegiatan yg telah disusun oleh panitia” ujar salah seorang tenaga pengajar. Lapangan bola basket dirubah sedemikian rupa hingga pertandingan futsal bisa berlangsung, dilapangan volley menjadi ajang lomba karung. Sementara peserta lainnya mengikuti tarik tambang, ditempat lainnya ada bersorak gembira setelah mendapatkan undian sepeda.
Noe, Cakra, Fadli kebagian tugas berhadapan dengan siswa dikelas sementara Kak Safar dan pak Dirman membantu saya mempersiapkan multimedia presentasi di Aula sekolah. “Batu Cobek” tidak tahu kemana! Setelah semuanya selesai “batu cobek” muncul dari arah Musholla. Briefing sebentar terus nyari kantin sekolah, dinding terbuat dari terpal plastic sementara atapnya menggunakan seng yg sudah mulai karatan. Dibalik tempat itu, satu keluarga kecil dari Jawa menjajakan makanan buat anak sekolah. saya langsung ingat dengan menu andalan semasa sekolah “SOP UBI GORENG” toge, lassa, mie instan plus ubi goreng dipotong-potong berbentuk dadu disiram dengan kuah terus taruh kacang ditambah kecap secukupnya ama jeruk nipis sesuai selera, enak toh …!!! ”saya ingat dulu toh waktu SMA! kadang saya makan ubi dua potong terus minum air putih lima gelas, sembari tertawa diapun memperjelas alasannya biar kenyang…hehehe” ungkap Kak Safar. karena yang tersedia hanya bakso dan gado-gado akhirnya kami sepakat menu sarapan kita kali ini adalah GADO-GADO. Satu persatu makanan diantar, akhirnya penjualnya mengatakan bahan gado-gadonya habis mas, sementara Kak Safar belum kebagian “mau diapa lagi, itumo bakso, daripada tidak makan!” ujar kak Safar.
Setelah siswa mengerjakan soal dikelas, satu persatu teman-teman ambil bagian melanjutkan tujuan utama kami “PROMOSI”. Pembahasan berbeda dengan biasanya panitia local tidak menyediakan sound system, tapi itu bukan alas an buat kami pembahasan soal try out tetap dilanjutkan. Berkat kesigapan siswa sebuah toa dibawa kepembahas pertama Kak Safar, suasana berubah menjadi heboh “seperti penjual obat dipasar”celetuk salah seorang siswi… hehehheheheheh. Cakra, Fadly, Rafi, Noe. Saya asik dengan Laptop bergelut dengan kertas LJK, suasana makin heboh saat pengumuman hasil try out ditampilkan dilayar. Setelah mendapat kenang-kenangan dari kami rangkaian kegiatanpun berakhir. Kamipun pamitan “sampai jumpa di kelas jarak jauh”.
“Nanti di Pangkep kita makan siang” ujar Kak Safar, mobilpun bergerak kembali ke Makassar. Sepertinya Barru ama Pangkep lagi membangun di beberapa tempat tampak pasak-pasak beton tertancap kebumi, beberapa kan tor ataupun lapangan lagi dalam perbaikan. Kali ini hutan bakau, empang serta laut menghiasi pandanganku. “Berhentiki dulu, Pak! penasaranka seperti apa rasanya itu dange rasa keju” pinta Kak Safar. “Dimanamaki ini kak?” ujarku. “Sigeri belumpi Pangkep” jawab Pak Dirman.
Seorang gadis kecil bertubuh gempal, alis tebal sesekali merapikan rambutnya yang pendek diterpa angin menjajakan “dange rasa keju”, aslinya panganan ini terbuat dari tepung ketan hitam dicampur dengan parutan kelapa diaduk hingga rata kemudian dimasukkan kedalam adonan berbentuk setengah lingkaran, setelah di bakar beberapa saat barulah madu asli dimasukkan sebagai pemanis, tapi sekarang panganan ini sudah jarang yg memakai madu dan boleh dikata sudah tidak ada penggantinya adalah gula merah yg sudah halus ditaburi pada saat di bakar, belum lagi tepungnya sudah dicampur dengan gula pasir. “masih ada de! Dange rasa keju?” ujar Kak Safar, dengan logat yang khas gadis kecil itu menjawab “habismi pak! Tinggal yang biasa, temanku disebelah masih ada najual” sambil membuka penutup race cooker yang sudah kosong, tempat menyimpan dange agar tetap hangat. “itumo paeng punya temanmu ambilkanka dua kotak nah” pinta Kak Safar, anak itupun segera beranjak dari kursi berlari memecah debu yang beterbangan, tak lama anak itu kembali membawa kresek hitam berisi 2 buah kotak dange rasa keju. “makan disinimi saja deh kak” pintaku. Makanan ini terasa kasar dimulut karena sisi-sisinya setengah hangus waktu proses akhir, nanti setelah dikunyah barulah aroma kelapa dan ketan hangus menambah cita rasa makanan ini sebelum melewati tenggorokan. Justru keju yang menjadi brending produk tidak terasa sama sekali. 2 kotak habis dalam sekejap “pesan lagi satu, yg biasamo! buat oleh-oleh” ujar Kak Safar. Gadis kecil itu akhirnya tersenyum lebar meladeni permintaan kami, lambaian tangan mungilnya mengiringi perjalanan kami. karena penasaran dange standart akhirnya tinggal menyisahkan 5 potong. Perjalanan pulang dilanjutkan semua kembali ketempat duduk masing-masing, diKiri kanan jalan terdapat papan-papan ukuran sedang dengan tulisan seadanya “menjual dange dan serabeng”, yang membedakan mereka cuma angka yg mudah dingat. Yang membuat kami geleng-geleng kepala karena diantara papan-papan itu ada tulisan jalangkotek dipenggal tidak seperti biasanya akhirnya menjadi jalang dan kotek.
Setelah melewati ibukota Kecamatan Sigeri, “Dufan Pangkep” yang dibungkus dengan tembok berwarna putih kami lewati, leherku berputar melawan arah jarum jam mendekati titik radius 360 derajat melihat taman bermain. sambil menelan air liur “hati kecilku berkata coba singgahki disitu di!!! pasti makin seru ini perjalanan”, setelah melewati jalan beton yang belum selesai saya
tertidur, belum pulas tidurku saya dibangunkan “kak dekatmi warung mauki makan siang” ujar cakra sembari menepuk-nepuk pundakku, Ada tiga warung berdampingan, semunya menjual menu yang sama ikan bakar dan sop saudara salah satu makanan yang sangat terkenal di Sulawesi Selatan. Satu persatu memesan sesuai selera, waktu saya kepala ikan baronang. Setelah sholat Dzuhur barulah kami menikmati pesanan kami. Setelah semuanya kenyang kami memilih melanjutkan perjalanan pulang karena dua diantara kami masih utang mengajar di beberapa cabang, saya pun melanjutkan tidur nanti setelah sampai baruga baru terbangun.
Karna duduknya pas di belakang driver otomatis hanya pemandangan sisi kanan yang jelas diretina mataku. sepanjang maros pangkep saya melihat hamparan sawah yg sudah menunduk bergoyang diterpa angin menggoda pemiliknya agar segera dipanen, sesekali melihat gunung yang makin hari semakin rendah karena menjadi bahan utama pembuatan semen, arsitektur rumah panggung di Maros dan sebelum masuk kota Pangkep hampir memiliki kesamaan yakni tidak memiliki serambi, paling yg berbeda hanya warna atau jenis kayu yg di gunakan.
Karna tak kuasa menahan rasa ngantuk akhirnya sayapun ikut tertidur, setelah mendekati SMA Neg 1 Barru barulah terbangun. Hari itu 30 Juli 2008 tepat peringatan ulang tahun SMA Negeri 1 Barru, “mulai dari alumni hingga anak kelas satu berbaur dalam rangkaian kegiatan yg telah disusun oleh panitia” ujar salah seorang tenaga pengajar. Lapangan bola basket dirubah sedemikian rupa hingga pertandingan futsal bisa berlangsung, dilapangan volley menjadi ajang lomba karung. Sementara peserta lainnya mengikuti tarik tambang, ditempat lainnya ada bersorak gembira setelah mendapatkan undian sepeda.
Noe, Cakra, Fadli kebagian tugas berhadapan dengan siswa dikelas sementara Kak Safar dan pak Dirman membantu saya mempersiapkan multimedia presentasi di Aula sekolah. “Batu Cobek” tidak tahu kemana! Setelah semuanya selesai “batu cobek” muncul dari arah Musholla. Briefing sebentar terus nyari kantin sekolah, dinding terbuat dari terpal plastic sementara atapnya menggunakan seng yg sudah mulai karatan. Dibalik tempat itu, satu keluarga kecil dari Jawa menjajakan makanan buat anak sekolah. saya langsung ingat dengan menu andalan semasa sekolah “SOP UBI GORENG” toge, lassa, mie instan plus ubi goreng dipotong-potong berbentuk dadu disiram dengan kuah terus taruh kacang ditambah kecap secukupnya ama jeruk nipis sesuai selera, enak toh …!!! ”saya ingat dulu toh waktu SMA! kadang saya makan ubi dua potong terus minum air putih lima gelas, sembari tertawa diapun memperjelas alasannya biar kenyang…hehehe” ungkap Kak Safar. karena yang tersedia hanya bakso dan gado-gado akhirnya kami sepakat menu sarapan kita kali ini adalah GADO-GADO. Satu persatu makanan diantar, akhirnya penjualnya mengatakan bahan gado-gadonya habis mas, sementara Kak Safar belum kebagian “mau diapa lagi, itumo bakso, daripada tidak makan!” ujar kak Safar.
Setelah siswa mengerjakan soal dikelas, satu persatu teman-teman ambil bagian melanjutkan tujuan utama kami “PROMOSI”. Pembahasan berbeda dengan biasanya panitia local tidak menyediakan sound system, tapi itu bukan alas an buat kami pembahasan soal try out tetap dilanjutkan. Berkat kesigapan siswa sebuah toa dibawa kepembahas pertama Kak Safar, suasana berubah menjadi heboh “seperti penjual obat dipasar”celetuk salah seorang siswi… hehehheheheheh. Cakra, Fadly, Rafi, Noe. Saya asik dengan Laptop bergelut dengan kertas LJK, suasana makin heboh saat pengumuman hasil try out ditampilkan dilayar. Setelah mendapat kenang-kenangan dari kami rangkaian kegiatanpun berakhir. Kamipun pamitan “sampai jumpa di kelas jarak jauh”.
“Nanti di Pangkep kita makan siang” ujar Kak Safar, mobilpun bergerak kembali ke Makassar. Sepertinya Barru ama Pangkep lagi membangun di beberapa tempat tampak pasak-pasak beton tertancap kebumi, beberapa kan tor ataupun lapangan lagi dalam perbaikan. Kali ini hutan bakau, empang serta laut menghiasi pandanganku. “Berhentiki dulu, Pak! penasaranka seperti apa rasanya itu dange rasa keju” pinta Kak Safar. “Dimanamaki ini kak?” ujarku. “Sigeri belumpi Pangkep” jawab Pak Dirman.
Seorang gadis kecil bertubuh gempal, alis tebal sesekali merapikan rambutnya yang pendek diterpa angin menjajakan “dange rasa keju”, aslinya panganan ini terbuat dari tepung ketan hitam dicampur dengan parutan kelapa diaduk hingga rata kemudian dimasukkan kedalam adonan berbentuk setengah lingkaran, setelah di bakar beberapa saat barulah madu asli dimasukkan sebagai pemanis, tapi sekarang panganan ini sudah jarang yg memakai madu dan boleh dikata sudah tidak ada penggantinya adalah gula merah yg sudah halus ditaburi pada saat di bakar, belum lagi tepungnya sudah dicampur dengan gula pasir. “masih ada de! Dange rasa keju?” ujar Kak Safar, dengan logat yang khas gadis kecil itu menjawab “habismi pak! Tinggal yang biasa, temanku disebelah masih ada najual” sambil membuka penutup race cooker yang sudah kosong, tempat menyimpan dange agar tetap hangat. “itumo paeng punya temanmu ambilkanka dua kotak nah” pinta Kak Safar, anak itupun segera beranjak dari kursi berlari memecah debu yang beterbangan, tak lama anak itu kembali membawa kresek hitam berisi 2 buah kotak dange rasa keju. “makan disinimi saja deh kak” pintaku. Makanan ini terasa kasar dimulut karena sisi-sisinya setengah hangus waktu proses akhir, nanti setelah dikunyah barulah aroma kelapa dan ketan hangus menambah cita rasa makanan ini sebelum melewati tenggorokan. Justru keju yang menjadi brending produk tidak terasa sama sekali. 2 kotak habis dalam sekejap “pesan lagi satu, yg biasamo! buat oleh-oleh” ujar Kak Safar. Gadis kecil itu akhirnya tersenyum lebar meladeni permintaan kami, lambaian tangan mungilnya mengiringi perjalanan kami. karena penasaran dange standart akhirnya tinggal menyisahkan 5 potong. Perjalanan pulang dilanjutkan semua kembali ketempat duduk masing-masing, diKiri kanan jalan terdapat papan-papan ukuran sedang dengan tulisan seadanya “menjual dange dan serabeng”, yang membedakan mereka cuma angka yg mudah dingat. Yang membuat kami geleng-geleng kepala karena diantara papan-papan itu ada tulisan jalangkotek dipenggal tidak seperti biasanya akhirnya menjadi jalang dan kotek.
Setelah melewati ibukota Kecamatan Sigeri, “Dufan Pangkep” yang dibungkus dengan tembok berwarna putih kami lewati, leherku berputar melawan arah jarum jam mendekati titik radius 360 derajat melihat taman bermain. sambil menelan air liur “hati kecilku berkata coba singgahki disitu di!!! pasti makin seru ini perjalanan”, setelah melewati jalan beton yang belum selesai saya
tertidur, belum pulas tidurku saya dibangunkan “kak dekatmi warung mauki makan siang” ujar cakra sembari menepuk-nepuk pundakku, Ada tiga warung berdampingan, semunya menjual menu yang sama ikan bakar dan sop saudara salah satu makanan yang sangat terkenal di Sulawesi Selatan. Satu persatu memesan sesuai selera, waktu saya kepala ikan baronang. Setelah sholat Dzuhur barulah kami menikmati pesanan kami. Setelah semuanya kenyang kami memilih melanjutkan perjalanan pulang karena dua diantara kami masih utang mengajar di beberapa cabang, saya pun melanjutkan tidur nanti setelah sampai baruga baru terbangun.
1 komentar:
4 November 2008 pukul 04.24
asyik ya perjlnnx, btw ajak2 donk !!!! ada kenangan gak dgn lgnx fadli "padi" he he he
Posting Komentar