menumpangi toyota land cruiser prado mobil meluncur ke arah selatan, setelah melewati perempatan Tanabau, mobil bergerak ketimur melewati jalan aspal yang sudah rusak di beberapa tempat, berkelok-kelok, mendaki serta turunan yang terjal namun perjalanan itu kami menikmati pemandangan yang ada. Kebun kelapa tersusun rapi namun buahnya yang jatuh dibiarkan begitu saja tergeletak menunggu tupai atau pemilik datang mengambilnya, melihat keadaan seperti itu saya teringat dengan desa Krebet, Bantul. Daerah ini dikenal dengan industri kerajinan tangan berbahan kayu mulai dari penahan pintu hingga cendramata pesta pernikahan.
Akibat musim kemarau yang panjang hutan jati di kiri dan kanan jalan hanya menyisahkan batang dan ranting sementara tumbuhan di sekitarnya tidak ada yang hidup sama sekali, dikejauhan areal hutan yang masih perawan begitu indah dipandang mata tapi di beberapa tempat nampak sisa pembakaran hutan, ”wah itu bahaya” tutur Syahrir Wahab (SW) khawatir melihat bukit di sisi jalan yang hampir setengah dari tambuhan hidup sudah menjadi arang, waktulah akan menjawab itu apakah tidak lama lagi terjadi longsor atau tidak, karena musim hujan sudah dekat.
”berhentiko dulu sebentar, Tahir,” ujar SW. Sejenak mengamati kebun jambu mente yang sedang berbuah, ”di sini buahnya bagus, beda dengan Bira,” ungkap SW, menurut Haro’ anak seorang penampung jambu mente ”Selayar dalam sekali panen bisa menghasilkan mente sekitar 1000 kg namun hanya sebahagian yang bisa diolah, padahal harga setelah diolah bisa 3 sampai 4 kali lipat perkilonya, kualitas jambu kita bagus! kadar airnya sedikit kata eksportir di Makassar.”
Menelusuri jalan yang berdampingan dengan pinggir pantai, melewati rumah nelayan, dermaga kayu, magrove, serta kebun kelapa pemandangan itu bikin kami terlena kalau perjalanannya sudah jauh, kami mulai gelisah karena mobil yang di depan semakin jauh meninggalkan kami, ”berhentiko dulu kita tunggu mobil lainnya,” ujar Hj. Norma tak lama muncul mobil satunya setelah konfirmasi barulah kami tahu kalau tempat pikniknya telah sudah lewat, ”saya pikir mobil di depan kami itu tahu tempat rekreasinya, ternyata tidak!” kenangku, mobil yang kami tumpangi balik arah menuju lokasi piknik sementara mobil yang satunya mengejar mobil yang sudah jauh.
Angin sepoi-sepoi terasa sangat menyejukkan di bawah rimbunan pohon ketapang tak jauh dari bibir pantai namun baunya kurang mengenakkan dihidung karena ada kotoran sapi, "padahal limbah kotoran sapi cukup potensial sebagai penghasil energi alternatif (biogas) setelah melalui fermentasi bisa menjadi pupuk organik yang siap pakai dengan kandungan unsur hara tinggi sangat berguna bagi tanaman dan secara otomatis kebersihan kandang terjaga," ungkapku saat berdua dengan SW melihat beberapa ekor sapi di dalam kandang, sementara yang lain terutama Tahir mencari tempat parkir yang aman diantara pohon kelapa.
Air laut sedang pasang, tikar digelar tepat dibibir pantai alat tangkap jala ditinggal begitu tergantung di atas pohon sementara pemiliknya entah kemana, lepa-lepa berjejer sekitar kami menambah suasana laut kian kental, ”kio sai injo tu’bojanjo juku,” ujar SW kepada salah seorang dari kami sedang berjalan menyusuri pantai mendekati dua orang nelayan yang sedang memasang jaring tak jauh dari tempat kami, sang nelayanpun datang dalam keadaan basah kuyup, badannya dibungkus dengan kain handuk seadanya ngobrol dengan SW masalah potensi rumput laut melihat arus dan lokasi yang sangat strategis untuk pengembangan rumput laut di pantai itu,”bikinko kelompok baru dikasihko bantuan (dalam bahasa selayar),” pinta SW ”susah karena dalam sekaliki didaerah situ (dalam bahasa selayar),” jawab sang nelayan sambil menunjuk kearah laut.
Posisi matahari tepat di atas kami, mobil yang lainpun datang bersama beberapa masyarakat setempat yang sudah siap dengan senjata panah dan golok dipinggang diantara mereka ada yang langsung kelaut mencari ikan ada yang mengambil kelapa muda, aroma ikan bakar mengundang selera ”makan dulu nantipi dilanjut itu,” ujar Hj. Norma Syahrir setelah melihat ransum sudah siap. Asik-asiknya makan tiba-tiba rombongan ibu-ibu serta kader posyandu dari desa Patilereng serta pak Kades datang mereka langsung bergabung menikmati hidangan yang ada.
Diskusi kecil antara ibu-ibu tercipta menyambut lompa posyandu sementara Pak Bupati dan Pak desa juga asik ngobrol berdua setelah menikmati hidangan makan siang, saya juga asik dengan penduduk setempat ”bagaimana dengan rumput laut disini, Bos?” ujarku memulai pembicaraan, ”dulu pernah ada dilokasi ini tapi habis dimakan oleh binatang laut seperti ular jadi tidak berhasil,” jawab Andi lelaki yang sangat piawai memanjat pohon kelapa ”kalau masyarakat disini pekerjaan aslinya berkebun kelaut itu pengisi waktu, sampingan! itu bapak tadi yang bicara dengan Bupati sehari-harinya bikin gula merah,” ungkap Andi sembari menawarkan tempat duduk. Andi orang yang senang bercanda dia juga mengajari saya kalau makan ikan kecil, lupa nama ikannya ditusuk setelah matang langsung di celup ke pantai itu katanya enak setelah mencoba dan merasakan apa yang dikatakan ternyata betul memang enak.
”Sabar-sabar saja tunggumi saya baru menyelam mencari ikan,” (dalam bahasa selayar) ujar Pak Karim dengan nada bercanda. Sosok yang penuh dengan keceriaan mulai berenang kesana kemari, menyusul SW dengan menggunakan kacamata selam bupati mulai menyelam diantara
sampah plastik yang hanyut di pantai, sasarannya bukan ikan melainkan batu-batuan yang pas buat aquarium.
Setelah berenang di laut dalam keadaan masih basah permainan catur dimulai lagi, ”lohe kare’kare’nang naisse tapi tide numaccai.” tutur SW saat menggoda pak karim mengeluarkan senjata pamungkasnya dalam bermain catur. pertarungan sengit berlangsung lama, dua orang sahabat beradu strategi, taktik, setiap gamenya permainan yang memerlukan konsentrasi penuh namun dihiasi dengan canda tawa membuat orang yang nonton tertawa. Waktu terus berjalan tak terasa hari sudah mulai sore setelah menikmati pantai rombongan kembali ke Benteng. Sampai ketemu di piknik berikutnya.
1 komentar:
4 November 2008 pukul 04.15
wah, wacana yg ckp mapan & jenaka ....
Posting Komentar